Wednesday, September 24, 2014

Etika dan Moral, Kesesatan Pemikiran (Fallacia), Silogisme

ETIKA

ETIKA berasal dari bahasa Yunani yaitu “ETHOS” yang memiliki arti kebiasaan. Istilah Moral dan Etika sering diperlakukan sebagai dua istilah yang sinonim. Moral/Moralitas biasanya dikaitkan dengan sistem nilai tentang bagaimana kita harus hidup secara baik sebagai manusia.

Etika dan moral berfungsi untuk memberi kita orientasi bagaimana dan kemana kita harus melangkah dalam hidup ini. Tetapi bedanya, moralitas langsung mengatakan kepada kita :
“Inilah caranya Anda harus melangkah”,
Sedangkan etika justru mempersoalkan:
“Apakah saya harus melangkah dengan cara itu” ?

Etika adalah sikap kritis setiap pribadi dan kelompok masyarakat dalam merealisasikan moralitas itu. Karena Etika adalah refleksi kritis terhadap moralitas, maka etika tidak bermaksud untuk membuat orang bertindak sesuai dengan moralitas begitu saja. Etika memang pada akhirnya menghimbau orang untuk bertindak sesuai dengan moralitas, karena ia sendiri tahu bahwa hal itu memang baik baginya.

Tujuan Mempelajari ETIKA
      Untuk menyamakan persepsi tentang penilaian perbuatan baik dan perbuatan buruk bagi setiap manusia dalam ruang dan waktu tertentu
      Sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.

Berdasar Kajian Ilmu :
1.   Etika Normatif
Mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
2.   Etika Fenomenologis
Mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma, dsb.

Berdasar Jenis Etika :
Etika Deskriptif, berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan pola prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika Deskriptif berbicara mengenai fakta apa adanya, yaitu mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya.

Berdasar Struktur Etika :
·        Etika umum
Berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan.

·        Etika khusus,
Merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang
kehidupan yang khusus

Etika khusus dibagi lagi menjadi dua bagian :
Ø Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.
Ø Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia.

·        Etika Profesi
Etika sosial yg menyangkut hubungan antar manusia dalam satu lingkup profesi dan masyarakat pengguna profesi tersebut.

Ciri-ciri Etika Profesi
Ø Adanya pengetahuan khusus
Biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan,
pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
Ø Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi
Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya
pada kode etik profesi.
Ø Mengabdi pada kepentingan masyarakat,
Setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
Ø Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi
Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya.

Prinsip-prinsip etika profesi :
1. Tanggung jawab
      Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
      Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada umumnya.
2. Keadilan
Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.
3. Otonomi.
Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri kebebasan dalam menjalankan profesinya.

Kode Etik
      Kode etik yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.

MORAL

            Moral adalah norma untuk menata sikap batin dan perilaku lahiriah. Moral dibagi menjadi dua, Moral filosofis dan moral teologis. Moral filosofis didasarkan pada penalaran akal budi dan pengamatan, seperti moral pancasila. Moral teologis didasarkan pada wahyu atau kitab suci yang ditafsirkan oleh otoritas intansi agama dsb

KESESATAN PEMIKIRAN (FALLACIA)
      Fallacia
Kesalahan pemikiran dlm logika, bukan kesalahan fakta, tapi kesalahan atas kesimpulan karena penalaran yg tidak sehat.
      Kesalahan penalaran:
Diklasifikasikan menjadi kesesatan formal dan kesesatan informal.
Ø Kesesatan formal: pelanggaran tdhp kaidah logika, mis. Semua penodong berwajah seram. Semua pengamen berwajah seram. Jadi semua pengamen adalah penodong. Apa yg dilanggar?
Ø Kesesatan informal: menyangkut kesesatan dlm bahasa. Mis. kesesatan diksi. Contoh sbb:
      Penempatan kata depan yg keliru: Antara hewan dan manusia memiliki perbedaan.
      Mengacau posisi subjek atau predikat: Karena tidak mengerjakan PR, guru menghukum anak itu.
      Ungkapan yg keliru: Pencuri kawakan itu berhasil diringkus polisi minggu yang lalu.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
      Amfiboli: sesat krn struktur kalimat bercabang. Mis. Anto Anak Bu Lasma yang hilang ingatan lari dari rumah.
      Kesesatan aksen/prosodi: sesat krn penekanan yg salah dlm pembicaraan. Mis. Ada aturan ‘Anda tdk boleh ganggu anak tetangga’. Nah Pak Budi bukan tetangga anda. Maka anda boleh mengganggu anaknya.
      Kesesatan bentuk pembicaraan:sesat krn org menyimpulkan kesamaan konstruksi juga berlaku bagi yang lain. Mis. Berpakaian artinya memakai pakaian. Bersepeda artinya memakai sepeda. Maka, beristeri artinya memakai isteri.
      Kesesatan aksiden: yg aksidental dikacaukan dg hal yang hakiki. Mis. Sawo matang adalah warna. Org Indonesia itu sawo matang. Maka, Org Indonesia itu adalah warna.
      Kesesatan krn alasan yg salah: Konklusi ditarik dr premis yg tak relevan.

KESESATAN PRESUMSI
      Generalisasi tergesa-gesa: Orang Padang pandai memasak.
      Non sequitur (belum tentu): Memang saya tidak lulus karena beberapa hari yang lalu saya berdebat dg dosen tsb.
      Analogi palsu:Membuat isteri bahagia seperti membuat hewan piaraan bahagia dg membelai kepalanya dan memberi banyak makan.
      Penalaran melingkar (petitio principii): Manusia merdeka krn ia bertanggungjawab dan ia bertanggungjawab krn ia merdeka.
      Deduksi cacat: Barangsiapa sering memberi sumbangan, maka dia pasti org baik. Andi pasti orang baik.
      Pikiran simplistis: Karena ia tidak beragama, maka ia pasti tidak bermoral.
      Argumentum ad hominem: Jangan percaya omongannya krn ia bekas narapidana.
      Argumentum ad populum: Anda lihat banyak ketidakadilan dan korupsi, maka Partai Nasdem adalah partai masa depan kita.
      Argumentum ad misericordiam: Seorg terdakwa meminta keringanan hukuman krn mengaku punya banyak tanggungan.
      Argumentum ad baculum: Karena beda pendapat, suka meneror org lain.
      Argumentum ad auctoritatem: Mengutip pendapat Freud mengenai psikoanalisa.
      Argumentum ad ignorantiam: Bila tidak bisa dibuktikan bahwa Tuhan itu ada, maka Tuhan tidak ada.
      Argumen utk keuntungan seseorang: Seorang pengusaha berjanji mau membiayai kuliah, bila mahasiswi mau dijadikan isteri.
      Non causa pro causa: Org sakit perut setelah menghapus sms berantai, maka dia menganggap itu sbg penyebabnya.

KESESATAN RETORIS
      Eufemisme/disfemisme: Pembangkang yg dianggap benar disebut reformator. Bila tdk disenangai maka disebut anggota pemberontak.
      Penjelasan retorik: Dia tidak lulus krn tidak teliti mengerjakan  soal.
      Stereotipe: Orang Jawa penyabar. Orang Batak suka menyanyi.
      Innuendo: Sy tdk mengatakan makanan tdk enak, tapi mau mengatakan lukisan itu bagus.
      Loading question: Apakah Anda masih tetap merokok?
      Weaseler: Tiga dari empat dokter menyarankan bahwa minum itu memperlancar pencernaan.
      Downplay: Jangan anggap serius omongannya krn dia hanya buruh bangunan.
      Lelucon/sindiran:
      Hiperbola: membesarbesarkan.
      Pengandaian bukti:studi menunjukkan.
      Dilema semu: Tamu yg menolak kopi, langsung disuguhi sirup.

SILOGISME
Adalah suatu simpulan dimana dari dua putusan (premis-premis) disimpulkan suatu putusan yg baru. Prinsipnya bila premis benar, maka simpulannya benar.
Macam – macam Silogisme :
1.    Silogisme kategoris
      Arti: silogisme yg premis dan simpulannya adalah putusan kategoris (pernyataan tanpa syarat).
      Contoh: M – P  Perbuatan jahat itu haram.
          S – M Menghina itu adalah perbuatan jahat.
          S – P  Maka, menghina itu haram.

Bila penalaran baik, silogisme memperlihatkan alasan dan dasarnya.
      Silogisme kategoris tunggal: mempunyai dua premis, terdiri atas 3 term S, P, M.
      Bentuk-bentuk silogisme kategoris tunggal:
(1) M adalah S dlm premis mayor dan P dlm permis minor. Aturan: premis minor hrs sbg penegasan, sedang premis mayor bersifat umum.
Mis. M – P Setiap manusia dpt mati (mayor)
           S – M Aristoteles adalah manusia (minor)
          S – P Jadi, Aristoteles dpt mati (simpulan)
      (2) M jd P dlm premis mayor dan minor. Aturan: salah satu premis harus negatif. Premis mayor bersifat umum.
          Mis
P – M Lingkaran adalah bentuk bundar (mayor).
S – M Segitiga bukan bentuk bundar (minor)
S – P Segitiga bukan lingkaran (simpulan)
      (3) M menjadi S dlm premis mayor dan minor. Aturan: premis minor hrs berupa penegasan  dan simpulannya bersifat partikular.
          Mis
          M-P Mahasiswa itu org dg tugas belajar (Mayor)
          M-S Ada mahasiswa yg org bodoh (minor)
          S-P Jadi, sebagian org bodoh itu org dg tugas belajar (Simpulan)
      (4) M adalah P dlm premis mayor dan S dlm premis minor. Aturan: premis minor hrs berupa penegasan, sedangkan  Simpulan bersifat partikular. Mis.
          P – M Influenza itu penyakit (mayor)
          M- S Semua penyakit mengganggu kesehatan (minor)
S-P  Jadi, sebagian yg mengganggu kesehatan itu influenza (Simpulan)

Silogisme kategoris majemuk
      Enthymema: silogisme yg dlm penalarannya tdk mengemukakan semua premis scr eksplisit. Salah satu premis/simpulannya dilampaui, disebut juga silogisme yg disingkat
      Polisilogisme: deretan silogisme dimana simpulan silogisme yg satu menjadi premis utk silogisme yg lainnya.
      Sorites: silogisme yg premisnya lebih dr dua. Putusan2 itu dihubungkan satu sama lain sedemikian, shg predikat dr putusan yg satu jadi subjek putusan berikutnya.

Hukum silogisme kategoris
      Silogisme tdk boleh mengandung lebih dr tiga term (S, M, P). Kurang dr tiga berarti tdk ada silogisme. Lebih dr tiga term artinya tdk ada perbandingan. Ketiga term tetap sama artinya. Dlm silogisme S dan P disatukan oleh perbandingan masing2 dg M.
      M tdk boleh masuk dlm kesimpulan, krn M berfungsi mengadakan perbandingan dg term2.

      Term S dan P dlm simpulan tdk boleh lebih luas dr premis2nya. Jika S dan P dlm premis partikular, maka dlm simpulan tdk boleh universal. 

No comments:

Post a Comment